The City Stories-1(Aceh)

Berawal dari keingintahuanku tentang rak buku ajaib yang ada diruang belajarku, keinginan untuk membaca ulang beberapa buku yang pernah aku nikmati dulu menyeruak kembali. Ada banyak kisah dan cerita lucu yang menjadi bunga kehidupanku waktu dulu. Kisah yang lucu, sedih, bahagia ataupun kisah melankolis yang sempat membuatku terlena dalam nuansa cinta yang menggelora. Buku-buku itu tersimpan rapi dalam rak yang terbuat dari kayu jati ukiran asli jepara yang sempat membuatku kagum akan keahlian pengukirnya. Dengan penuh semangat, aku pun semakin ingin untuk mendekati rak itu sampai aku bisa melihat beberapa koleksiku yang memang sudah lama tidak aku sentuh. Mataku kemudian tertuju pada sebuah buku tebal yang menjadi perhatianku karena letaknya yang memang paling depan dan paling mudah diraih.

Buku itu belum usang, masih sangat bagus malah. Dengan sampul keemasan yang anggun berhias beberapa kelopak mawar segar dengan daun-daun hijau disetiap tangkainya, semakin membuatnya ayu. Diantara tumpukan kertas-kertas usang dan catatan harian yang makin lama makin usang, buku itu seolah menggeliat ingin melihat dunia.

Banyak cerita yang ada didalamnya, cerita haru biru, suka cita dan bahagia ataupun kejutan indah yang bercampur dengan airmata. Kertasnya sangat tebal yang menandakan keistimewaan dari kapasitas penulisannya. Saking banyaknya, hingga pena penulisnya pun tak kuasa untuk berhenti bercerita . Satu cerita yang memang telah membiusku dari dulu adalah cerita tentang kota. Ada cerita Aceh, Medan, padang, Palembang, Jambi, Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, Kalimantan, Makassar dan sebagainya. Kesannya seperti cerita Indonesia memang, dengan nama-nama kota yang menjadi ikon dari negara kita tercinta, cerita- cerita ku dengan mereka bermula. Cerita-cerita dalam buku itu semakin mengajakku larut dalam airmata, baik duka ataupun bahagia. Secara jelas ceritanya mengalir, tanpa berurutan dan tanpa pamitan mereka datang dan pergi, seolah dengan setia mereka menggoreskan pena cerita dalam setiap helai kosongnya. Ada beberapa kisah yang merupakan cuplikan kecil dari kertas-kertasnya, dan ini hanyalah sebuah cerita.

Buku Aceh…. Aku mengenalnya beberapa tahun lalu, kurang lebih tiga tahun lalu. Aku menemukannnya diantara kekosongan malam. Dia seolah menghampiriku dan memperkenalkan dirinya. Buku itu sangat bagus, putih bersih, dengan ukuran yang sedikit lebih besar daripada ukuran buku pada umumnya. Keindahan fisiknya sempat membuatku terlena sesaat. Kemudian aku sangat tertarik untuk membacanya dan mengetahui lebih banyak tentang isi didalamnya yang aku yakin pasti lebih beraneka daripada hanya sekedar tampilan luarnya saja. Aku semakin tertantang untuk membacanya terus. Benar saja, aku tidak bisa melepaskan diri dari alur cerita yang semakin mambawaku larut dalam buaian kisahnya. Bahasanya halus, bentuk fisiknya cantik, cara menceritakannya sangat ringan dan mengalir tanpa beban. Aku seperti bercerita tentang apa yang aku alami sendiri waktu itu. Sungguh, sangat mendekati sebuah kesempurnaan. Aku telah menemukan buku bagus yang bisa aku jadikan referensi suatu saat nanti. Kemudian aku baru sadar kalau rasa yang aneh telah hinggap dalam hatiku, rasa yang selama ini mati dan tidak lagi menghiasi perasaan halusku. Iya…aku telah jatuh cinta padanya. Keindahannya telah membiusku dalam perasaan yang makin lama makin nyata sehingga aku tidak rela untuk melepaskan diriku dari keindahan pesonanya. Semakin hari rasa ketertarikanku terhadap buku acehku makin kuat. Dengan segala pesonanya pula seakan-akan dia selalu mencoba merayuku untuk terus membacanya, mengikuti kisah selanjutnya. Keelokan buku acehku semakin membawaku mengangkasa dengan ceitanya yang makin lama menebarkan aroma surga, membuatku terpaku lebih lama. Tanpa sadar aku telah tergantung pada ceritanya untuk memulai hari-hariku. Aku selalu ingin membacanya setiap saat, mencoba menebak-nebak apa kelanjutan episode kemarin dan berharap setiap ending dari kisahnya akan bahagia.

Ketika cerita tentang aceh harus terhenti, aku tidak siap. Hatiku berontak dan aku tak kuasa untuk menahan rasa ingin tahu yang semakin membelenggu dan memaksaku. Entah kenapa kisah yang dulu indah dan sempat melenakanku harus berakhir begitu saja tanpa ada sebuah benang merah yang berarti. Kisah yang selalu aku banggakan kemudian berubah menjadi cerita omong kosong yang sering aku dengar dari orang-orang yang kerjaannya hanya membual dan menipu. Aku kecewa dengan buku acehku, hatiku sakit dan penilaianku tentang cerita aceh pun berubah total. Tak ada lagi bahasa halus, karena itu semua hanya kulit indah yang membungkus kebohongannya. Tak ada lagi tampilan fisik yang cantik ataupun kisah haru yang menguras air mata, karena semuanya hanyalah muslihat belaka. Aku hanya merasa telah membaca sebuah bualan. Kekecewaanku terus berlanjut dengan tidak menyentuh buku acehku apalagi membacanya. Ada sebuah keengganan setiap kali aku memandang buku itu, buku yang telah memberiku kekecewaan yang dalam. Kini aku tidak tahu lagi dimana buku acehku berada, mungkin dia kembali kepada pemilik aslinya, atau pulang ke kampung halamannya, atau barangkali dia telah menemukan pembaca setianya yang setiap hari membacanya dengan penuh kesabaran. Yang jelas, buku acehku telah berlalu, hilang dalam kelam. Meski tak kuingkari kadang aku rindu dengan kisahnya, tapi itu tak cukup menutupi rasa kecewaku yang dalam. Selamat tinggal buku acehku, ijinkan aku menutupmu dalam tumpukan buku usang dirak paling belakang. Maafkan aku jika suatu saat nanti atau sampai kapanpun aku tidak akan membuka dan membacamu lagi, demi sekeping hati.

Jakarta 22 September 2008.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.