Hujan gerimis mewarnai langit kota Jakarta saat sasha melangkahkan kakinya dari rumah. Udara dingin yang menyeruak menyapa nafasnya dengan kesejukan yang menyengat. Sesaat badannya menggigil menahan angin yang ikut memberikan percikan mungil air segar pada kemeja kesayangannya. Ya, hari itu sasha berniat untuk berkunjung ke sebuah kantor yang akhir-akhir ini harus dia akrabi karena sesuatu hal. Hujan kecil tak menghalangi langkahnya untuk menepakkan kaki menunggu ‘si burung biru’ yang lagi kosong melintas didepannya. Syukurlah, ada armada lain yang menawarkan fasilitas lebih dengan harga yang lebih terjangkau kantongnya. Maklum, untuk ukuran sasha yang telah siap mengabdikan diri demi merah putih, sasha harus pandai-pandai mengelola keuangannya. Banyak yang harus sasha dapatkan siang ini, demi nasib anak-anak diluar sana..hehehehehe, bukan ding, demi nasibnya sendiri dalam ujian akhir diklatnya. Manager kantor dengan senang hati menemui sasha dan membantunya dengan memberikan data-data yang dibutuhkan sasha. Alhamdulillah, akhirnya sebagai awal dari pekerjaan akhirnya, sasha sukses. Demi komitmennya, sasha rela berpanas-panas untuk melengkapi data penting dalam karyanya. Selesai disusun, hampir tiga bulan kemudian, karya sasha dapat dinikmati oleh mereka yang berkepentingan. Sasha segera mengumpulkannya karena tidak mau namanya dicatat sebagai orang yang terlambat.
Hari yang bersejarahpun tiba. Mendapatkan hari terakhir pada jam pertama membuat sasha sedikit ciut, terlebih lagi membayangkan beliau-beliau yang terhormat dengan sukarela menjadi penguji dari karya singkatnya selama kurang dari 2 bulan ini. Tak seperti yang sasha bayangkan, sidang itu berjalan lancar tak ada kesulitan satupun. Bahkan sasha terkesan ngobrol-ngobrol santai dengan bapak-bapak tersebut. Alhamdulillah lagi, sasha tak lupa bersyukur karena sebagian kecil dari tugas kehidupan barunya terselesaikan. Tinggal menunggu instruksi untuk tugas-tugas berikutnya. Tapi, yang lebih mendebarkan adalah menunggu waktunya untuk diumumkan orang-orang terpilih yang selama ini menjadi temen-temen barunya. Selain itu sangat mendebarkan pula menunggu siapa saja yang akan menjadi orang-orang terpilih dijajaran wakil merah putih diluar negeri, yang dengan bangga mendedikasikan hidup dan kehidupannya demi satu nama Indonesia.
Hari yang dinantikan pun datang, yang terhormat pun dengan senang hati meluangkan waktunya untuk melepas kita dari diklat dan menerima kita sebagai bagian dari sebuah korps yang sangat membanggakan. Ya, korps dengan warna putih bertuliskan ‘CD’ yang sangat membanggakan bagi seluruh dunia. Corps Diplomatic yang tak pernah sasha bayangkan selama ini akan menjadi bagian dari hidupnya mulai sejak diterimanya mereka oleh Pejambon 1. Sasha rasanya ingin menangis saat beliau sang Pejambon 1 dengan resmi menutup diklat dan mengucapkan selamat bergabung dengan korps yang membanggakan bagi pejambon. Satu demi satu ucapan beliau begitu menyentuh hati sasha sehingga airmatanya tak mau bersembunyi walau sebentar saja. Sasha memang terlalu sensitif untuk sesuatu yang menyentuh hatinya. Rupanya otak kanannya telah berkembang dengan sempurna, bahkan sebelum ada pelatihan reborn pun sasha telah merasakan kalau perasaannya sangat mudah tersentuh oleh hal-hal yang membuatnya terharu, alhasil, airmata pun sering dengan santainya meleleh dan membasahi pipinya yang chubby.
Allah begitu adil dan baik. sasha minta bunga yang indah, tapi Dia memberinya kaktus berduri. Sasha minta hewan yang sangat lucu, Allah memberinya ulat bulu, dan ketika sasha meminta kemudahan, Allah memberinya masalah. Subhanallah, dibalik semua pemberian itu, sasha menemukan banyak hikmah yang selalu membuatnya berpikir untuk jadi lebih dewasa dan bijaksana. Allah mengajarkan sasha untuk menjadi kaktus berduri yang bisa bertahan dalam keadaan sulit, mempunyai wujud yang cantik namun harus hati-hati untuk bisa disentuh. Allah memberikan ulat bulu agar sasha tau dan bisa mengerti akan keindahan makhluknya yang beragam, sehingga sasha akan lebih menghargai orang lain. Allah memberikan masalah agar sasha bisa berkaca dari masalahnya dan berusaha untuk memecahkannya serta menjadi dewasa, dengan begitu maka kemudahan dalam menghadapi masalah-masalah pun akan menjadikannya lebih dewasa.
Sambutan dan laporan dari kapus juga membuat sasha semakin meneteskan airmata, terlebih lagi sewaktu beliau mengucapkan kata-kata sakti.. ” From now on, don’t hesitate to call yourselves a diplomat”. Trenyuhnya hati sasha membuat semua airmatanya seolah ingin keluar. Kemudian sasha teringat sama ayah bunda diSolo. Keinginan dan doa mereka adalah untuk melihat sasha bahagia dengan apa yang dia lakukan sekarang. Sasha berjanji akan memberikan kebahagian bagi mereka semampu sasha. Senangnya hati sasha membuatnya menangis saat teman-teman terbaiknya menjadi orang-orang terpilih. Terlebih lagi saat dibacakan kemana mereka akan menghabiskan masa tugas magangnya selama 3 bulan kedepan. Dan tiba-tiba namanya dipanggil…. “KBRI Beijing”. Sasha hendak menangis rasanya, meskipun Beijing bukanlah menjadi tempat pertama yang ingin dia kunjungi di luar negeri. Kecintaannya pada Jepang dan orang yang mempengaruhinya untuk sama-sama mencintai Jepang telah membuatnya trenyuh. Sasha jadi merasa kalau Allah belum merestuinya untuk dekat dengan bapak yang unik tersebut. Selain itu sasha juga merasa banyak hikmah dengan ditugaskannya dia ke Beijing dan bukan Tokyo atau Osaka. Sasha berharap dia bisa menyisihkan sebagian dari gajinya untuk sedikit membenahi rumah orang tuanya yang sempat terkena gempa Jogja 2006 silam. Terlebih lagi bahwa tahun depan, anak angkatnya akan memasuki bangku kuliah yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan airmata yang meleleh, sasha bersujud dan mengucapkan syukur… Ya Allah, Engkau menjadikan sesuatu indah pada waktunya”.
Sekarang, kehidupan dan pekerjaan baru sasha telah dimulai. Sebagian dari mimpi besarnya telah memiliki jalan yang terbuka lebar. Tinggal bagaimana sasha bisa menjadikan hampir semua mimpinya menjadi nyata. Sasha sadar bahwa tidak semua mimpinya akan menjadi nyata, tapi jauh dilubuk hati, sasha berharap bahwa, mimpinya untuk bahagia bersama dengan orang terkasih yang menjadi panutannya selama ini akan segera menyusul untuk menjadi nyata. Ya, sasha akan terus berharap dan bersujud agar keajaiban datang dari Allah, karena hanya Allah lah yang bisa menjadikan sesuatu yang mustahil itu menjadi nyata.
“For my japanese inspiration… I’m counting the second to meet you”.