Senin pagi 3 desember 2007 yang sedikit mendung. Seperti biasanya sasha bangun pagi untuk menyudahi mimpinya yang terlanjur mengangkasa. Perempuan mandiri yang terbiasa melakukan semuanya sendiri sejak masuk bangku kuliah itu berencana untuk menyempurnakan paginya dengan dhuha yang telah memanggil. Dengan rasa malas yang amat, diambilnya air wudhu untuk membasuh wajah yang selama beberapa hari terakhir ini kusut. Masih terngiang dan terbayang kejadian yang sempat membuat dadanya sesak dan menghasilkan tangisan. Ah..sudahlah, sasha sudah berusaha melupakan perihnya hati ketika seseorang yang sasha sayangi dengan tenangnya bilang kalau ia akan menikah dengan wanita lain 10 hari lagi. Dunia memang surprising…banyak yang sasha tidak tahu tetapi terjadi dengan tiba- tiba. Sudahlah..biarlah semua berlalu dengan manisnya. Sasha sudah bertekat untuk tidak menjadi cengeng hanya karena sepotong hati. Kehidupannya harus terus berlanjut, karena waktu tak mau menunggu atau kembali ke masa lalu. Masih teringat jelas pesan dari orang orang tersayang ketika pertama kali ia menginjakkan kaki ke bumi Jakarta. Dengan penuh kasih ayahnya berpesan..”nduk…ati- ati anggonmu kerjo yo…ojo lali sholat lan ngibadah sing tenanan..pinter2 njogo pergaulan..ojo gawe isin bapak, ibu lan kluarga”… Ayahnya yang asli jawa tulen tak henti- hentinya memberikan nasehat untuk sasha. Belum lagi aura kurang ikhlas dari ibundanya yang dengan berat hati melepas putri bungsunya yang selalu menjadi anak kecil, pergi ke kota yang terkenal garang dan kejam. Kepergiannya diiringi dengan rengekan dari ponakan yang semakin membuatnya berat untuk meninggalkan semuanya. Kini setelah hampir dua tahun sasha berjuang melawan beratnya hidup diJakarta, apakah logis jika dia harus berlarut dalam kesedihan yang tak jelas ujung pangkalnya. TIDAK…dengan tegas sasha menolak untuk terus menyimpan sakit hati yang hanya akan menghambat langkahnya. Karena semangatnya, tanpa sadar air dari keran terasa segar membasuh wajahnya, sesegar hatinya yang kembali menemukan cahaya. Dengan mantap diniatkannya dhuha pagi ini untuk melahirkan sasha baru yang tak akan berpihak pada airmata kesedihan dan keputusasaan. Dalam tangisnya, sasha memohon untuk terus diberi kekuatan dan ketabahan. Tanpa terasa sasha tertidur dalam kain putihnya yang telah basah dengan air mata…
Utada Hikaru dengan sakuranya telah membangunkan sasha dari tidur dhuhanya, CS kantor menginformasikan kalau kelas jam pertama hari ini cancel…syukurlah..setidaknya masih ada waktu untuk mempersiapkan kelas2 berikutnya. Alarm handphone telah mengingatkan sasha kalau sudah waktunya dia bersiap berangkat kekantor… SepertiĀ biasa, setengah satu sasha berangkat kekantor menembus teriknya matahari Jakarta yang siap membakar apa saja. Dinginnya AC begitu terasa ketika pintu depan kantornya terbuka dengan suksesnya. Hal pertama yang dia lakukan adalah pergi keruang komputer meskipun belum menyapa meja kerja yang telah sehari ditinggalkannya.
Ups..sasha baru ingat kalau hari ini adalah pengumuman penerimaan seleksi pegawai disebuah departemen terkemuka dinegeri ini dimana dia juga ikut mendaftar. Tapi keinginan untuk tahu segera ditepisnya mengingat ujian akhir yang sangat tidak sukses menurutnya. Bahkan sasha beranggapan kalau ujian terakhirnya didepartemen itu tidak akan lolos, maka seperti biasa dia hanya membuka YM untuk menyapa teman2nya yang sudah lebih dulu online. Lama- lama jarinya tergoda juga untuk membuka situs resmi departemen itu..ternyata memang benar pengumuman itu sudah ada. Tanpa terasa, jarinya refleks memencet ikon pengumuman di situs itu, dan …sim…salabim…Wallahu Alam..nomor ujiannya ada diurutan ke 60…SURPRISED!!!… mata sasha berkaca- kaca seketika..tak kuasa akhirnya dia menangis diruang komputer yang untungnya hanya ada dia sendiri. Setelah yakin bahwa nomor itu memang punya sasha, maka dia segera kemeja kerjanya untuk menenangkan diri dan bersyukur dengan 2 rakaat. Kain putihnya basah oleh air mata..sasha diterima jadi CPNS.
Sasha bingung hendak memberi tahu keluarganya. Terbayang wajah ayah dan ibundanya yang selalu berdoa untuk sasha kecil yang telah meninggalkan rumah demi sebuah masa depan. Ingin sekali rasanya memberitahu mereka saat itu juga, tetapi ayah bundanya pasti sedang bekerja, lagipula sasha ingin memberitahu disaat semua keluarganya berkumpul untuk nonton TV bersama. Malam itu, sasha tak tenang mengajar, meskipun tetap konsen, tak jarang dia senyum2 sendiri membayang kan kalau tak lama lagi dia akan resign dari kantor yang telah dua tahun menaunginya. Sial…sasha keki sendiri mengingat baru 2 bulan yang lalu dia cukup berbahagia mendapatkan kenaikan gaji yang cukup lumayan sedangkan sebentar lagi dia harus resign dan pindah kekantor baru, but she knows that she has to choose anyway.
Sepulang kerja, tak sabar sasha mengambil kartu ujiannya untuk memastikan kalau nomor itu memang miliknya. Diambilnya 6120 classicnya untuk memberitahukan ayahandanya kabar gembira itu. Suasana mendadak haru karena ayahnya secara langsung melakukan sujud sukur diiringi ucapan syukur dari keluarganya, mereka tahu begitu ayahandanya bersujud. Alhamdulillah..ya Allah…Engkau menjadikan segala sesuatu itu indah pada saatnya. Sekaranglah saatnya sasha menjalani kehidupan barunya..seperti bayi yang baru lahir kedunia….